header-int

Antara Karakter Bualan dan Karakter Sungguhan

Kamis, 04 Jul 2019, 16:59:49 WIB - 391 View
Share
Antara Karakter Bualan dan Karakter Sungguhan

Antara Karakter Bualan dan Karakter Sungguhan

(Telisik pendidikan karakter di Withayapanya School dan Pratheep Vitaya School; Thailand)

 

Oleh: Moh. Nawafil

Participants of Practice Field Experience in Southern Border Provinces of Thailand. Student of Ibrahimy University.

 

Persoalan karakter memang tak pernah lekang kita bicarakan. Sama halnya dengan negara Indonesia, di negara Thailand pun juga begitu. Tampaknya karakter memanglah suatu hal yang sangat urgent dalam pendidikan dimanapun itu berada. Tak ayal jika pendidikan karakter selalu menjadi bahan diskusi yang panas guna menemukan ramuan solusi yang tepat.

Sebagaimana mana yang diungkapkan oleh Dr. R Covey dalam bukunya yang berjudul The Leader In Me bahwa “nilaimu hanya akan bisa membawamu melamar pekerjaan, tapi karaktermu lah yang akan bisa menjalankan kebaikan dalam pekerjaan.” Dari situ sudah jelas sekali bahwa pendidikan karakter memang sangat diperlukan, terutama bagi peserta didik kita. Karena pendidikan yang berkarakter akan banyak menciptakan intelektual terpelajar bukan intelektual kurang ajar.

Mungkin kita telah banyak menemukan buku-buku yang mengulas rinci tentang pendidikan karakter, namun yang menjadi persoalannya adalah mengapa implementasi pendidikan karakter masih merangkak di sekolah-sekolah?.  Dalam artian laju perkembangan pendidikan karakter disekolah masih jauh dari yang diharapkan. Negara Thailand mempunyai jawaban yang sangat menarik atas pertanyaan tersebut, salah satunya di sekolah withayapanya School dan Pratheep Vitaya School. Dalam sekolah tersebut, menjalankan pendidikan karakter haruslah dimulai dari guru. Jadi, murid tidak akan pernah memiliki karakter baik, jika gurunya tidak mencontohkan karakter baik terlebih dahulu. Sebab karakter tidak bisa dipelajari melalui suatu goresan tinta hitam dalam sebuah buku saja. Melainkan harus dicontohkan dan dipraktekkan.

Boleh jadi sekolah telah mengkaji bagaimana karakter berpakaian yang baik bagi murid, sehingga diberikan peraturan bahwa pakaian yang baik harus menutup aurat. Tapi apakah murid tahu model pakaian seperti apa dan bagaimana cara berpakaian yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat sekitarnya. Atau juga pihak sekolah menghimbau jika hendak berangkat ke sekolah setiap murid haruslah bersalaman kepada orang tua terlebih dahulu. Akan tetapi apakah murid mengerti tata cara bersalaman yang baik terhadap orang tua, bisa jadi kita akan temukan berbagai variasi salaman murid terhadap orang tuanya. Yang satu bersalaman dengan mencium tangan orang tuanya melalui hidung, satunya lagi menempelkan ke pipi atau ke dahi, atau malah tidak menciumnya sama sekali. Artinya, hal tersebut menggambarkan bahwa kesemua itu membutuhkan praktek atau contoh yang nyata dari seorang guru. Bukan hanya sebatas peraturan yang tertulis dalam kertas saja.

Di sekolah withayapanya school, setiap hari ada dua atau tiga orang guru yang bertugas di depan gerbang sekolah menunggu kedatangan murid. Guru-guru tersebut mengajak murid bersalaman sambil mengarahkan tangannya kehidung si murid untuk dicium. Setelah itu guru-guru tersebut memeluk si murid dan menyuruhnya masuk kedalam sekolah. Begitulah cara guru Withayapanya School mengajarkan tatacara karakter bersalaman yang baik kepada para muridnya.

Selain itu, apabila di Pratheep Vitaya dan Withayapanya School hendak memberlakukan peraturan pakaian yang menutup aurat bagi siswa-siswi mereka, terlebih dahulu para guru akan memberikan contoh cara berpkaian yang baik dan benar. Hal ini ditandai dengan penampilan atau model berpakaian guru yang menutup aurat semua. Tak seorang gurupun ada yang memakai baju-baju seksi. Pakaian yang dikenakan adalah pakaian longgar, sehingga lekukan tubuh tidak tampak kelihatan. Alhasil, pakaian semua muridpun sama halnya dengan pakaian guru. Begitupun dengan siswa laki-laki, mereka mencontoh pakaian yang dikenakan oleh gurunya juga. Tak ditemukan satupun siswa yang tidak memakai songkok atau topi saat berada disekolah, karena guru-guru mereka memakai songkok semua.

Jadi, karakter bukan hanya bersifat instruction yang ditulis dalam sebuah kertas putih sehingga menjelma menjadi peraturan yang mencekam bagi siswa. Siswa hanya akan menaati peraturan supaya tidak dihukum, atau siswa akan menaati peraturan jika dilihat oleh guru saja, tak lebih. Boleh jadi siswa menaati peraturan sehingga dapat menunjukkan karakter yang baik. Tapi apakah bisa menjamin karakter tersebut dapat diterapkan dirumah?. Karena yang dilakukan disekolah bukanlah suatu real-behavior, melainkan sebatas peraturan maha agung yang harus ditaati oleh seluruh siswa. Dan sungguh tidak ada yang tahu, apakah setiap orang tua siswa juga memberlakukan peraturan maha agung yang sama disekolah ketika berada dirumah.

Jika hal tersebut diatas terjadi, niscaya akan menjadi sesuatu yang sia-sia belaka. Karena esensi dari tujuan dasarnya bukan membentuk suatu habitual, melainkan membuat perasaan tertekan dan ketakutan dalam diri siswa. Di negara Thailand ini khususnya pada sekolah Pratheep Vitaya dan Withayapanya School, jika hendak membentuk karakter siswa, maka seorang guru terlebih dahulu mencontohkannya. Bukan hanya indah dalam RPP atau peraturan dikertas-kertas tertentu saja. Melainkan dapat dipraktekkan secara real dan berkelanjutan. Hal ini didukung juga dengan statement Confucius bahwa to know what is right and not do it is the worst cowardice (mengetahui apa yang benar dan tidak melakukannya adalah kepengecutan yang terburuk).

Disekolah ini juga mengintegrasikan antara science dan agama. Jadi agama dan science menjadi satu-kesatuan yang utuh. Tanpa harus mengkotak-kotakannya. Dalam artian tidaklah membeda-bedakan antara agama dan science. Siswa-siswi dapat belajar agama sekaligus belajar science. Sebagaimana yang dikatakan oleh Albert Einstein bahwa religion without knowledge is blind, knowledge without religion is paralyzed (agama tanpa ilmu adalah buta, ilmu tanpa agama adalah lumpuh). Kurikulum yang digunakanpun telah diitegrasikan dengan nilai-nilai islam. Jadi kurikulum yang disediakan oleh kerajaan atau goverment dimodifikasi dengan beberapa tambahan, seperti nilai-nilai islam, budaya, dan kearifan lokal setempat.

Unidha Universitas Ibrahimy - Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah - Sukorejo Situbondo Jawa Timur
© 2019 Universitas Ibrahimy Follow Universitas Ibrahimy : Facebook Twitter Linked Youtube