header-int

TANTANGAN DALAM MENGAJAR DI SEKOLAH RUSMEE STAPHANA

Rabu, 24 Jul 2019, 16:39:26 WIB - 208 View
Share
TANTANGAN DALAM MENGAJAR DI SEKOLAH RUSMEE STAPHANA

Betapa bahagianya menjadi seorang guru yang tampil penuh kharisma dihadapan siswanya. Sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati, dan kepergiannya ditangisi.

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya agar memiliki spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. ( UU Sisdiknas pasal 1 ayat 1 )

Pendidikan adalah sebuah dunia yang lahir dari rahim kasih sayang. Pendidikan harus berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan pendidik sebagai orang tua dan anak didik (murid) sebagai anak. Pendidikan dilakukan dengan hati lewat ungkapan rasa kasih sayang (love), keikhlasan (sincerely), kejujuran (honesty), keagamaan (spiritual), dan suasana kekeluargaan (family atmosphere). Guru tidak dibatasi waktu dan tempat dalam mendidik siswa, sebagaimana orang tua mendidik anaknya. Guru harus ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para siswanya sepanjang waktu. Demikian pula tempat pendidikannya tidak terbatas hanya di dalam ruang kelas saja, dimanapun seorang guru berada, dia harus sanggup memainkan perannya sebagai seorang pendidik yang sejati. Fenomena ini yang kini hilang dari sistem pendidikan nasional kita sekarang.

Sudah hampir 2 bulan lamanya saya melaksanakan kegiatan KKN-PPL, saya merasa benar-benar menjadi seorang guru walaupun terkadang saya gagal menjadi seorang guru sejati, sebab karakter anak-anak pelajar Thailand sangat berbeda sekali dengan karakter anak-anak pelajar Indonesia. Pelajar Indonesia begitu sangat menghormati guru, taat kepada perintah guru dan takut kepada gurunya, sedangkan pelajar Thailand tidak ada takutnya sama sekali kepada guru, kurang rasa hormatnya kepada semua guru, bahkan mereka ketika salam kepada gurunya hanya berjabat tangan tidak mencium tangan gurunya, entahlah mungkin itu budaya mereka yang berbeda dengan budaya indonesia.

Saya sendiri mengalami banyak kesulitan disini, pengalaman mengajar di lembaga Pengembangan Bahasa Arab (LPBA) di Pondok pesantren sukorejo tidak bisa dijadikan jaminan untuk merasakan kemudahan mengajar di sekolah ini, baru kali ini saya merasa down, hilang semangat, bahkan kehilanga jati diri saya sebagai seorang guru. Sebab apa? Sebab ketika saya mengajar dikelas 2 SMP dalam mata pelajaran bahasa arab pelajar disini sulit untuk diatur, mereka lebih suka berlari-larian didalam kelas, membuat onar, bahkan sebagian dari mereka suka bermain di toilet. Setiap saya mengajar pasti ada saja pelajar yang izin ke toilet, setelah saya selidiki mereka tidak berbuat apapun di toilet tersebut, hanya nongkrong-nongkrong saja. Sebenarnya ada apa sih didalam toilet itu?

Saya yakin peserta kkn-ppl yang lainnya pun merasakan apa yang saya rasakan. Ini berlaku kepada semua guru-guru yang ada disekolah rusmee, guru-guru disini pun mengeluh karna pelajar tidak suka duduk didalam kelas, malas belajar, dan lebih suka keluyuran diluar kelas. Sungguh sangat berbeda dengan pelajar-pelajar indonesia. Tapi saya tidak akan menyerah sampai disini saja, saya mencoba mencari info tentang hal-hal yang ditakuti oleh pelajar sekolah ini, akhirnya ada seorang guru yang memberikan arahan kepada saya untuk membawa rotan atau alat untuk memukul. Alhamdulillah setelah saya coba mengajar dengan membawa alat tempur seperti rotan ternyata sangat berpengaruh dalam keefektifan kegiatan belajar mengajar. Tapi itu hanya beberapa saat saja, dipertemuan selanjutnya mereka mulai nakal kembali, membuat onar, dan tidak menuruti apa yang saya perintahkan. Karna selama saya memegang rotan itu tak pernah saya gunakan untuk memukul pelajar. Jadi hilanglah rasa segan mereka dan kembali seperti semula. Sungguh ini merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya khususnya dan umumnya bagi kawan-kawan seperjuangan yang saat ini sedang melaksanakan kegiatan KKN-PPL Thailand angkatan ke 12. Dengan pengalaman mengajar seperti ini saya berharap akan lebih kuat dan sabar lagi menjadi seorang guru sejati, saya yakin suatu hari nanti pengalaman ini akan terasa lebih mudah ketika saya mengajar pelajajar-pelajar indonesia yang dasarnya mengerti cara menghormati guru, mentatai guru, dan semangat dalam belajar.

Unidha Universitas Ibrahimy - Pondok Pesantren Salafiyah Syafi`iyah - Sukorejo Situbondo Jawa Timur
© 2019 Universitas Ibrahimy Follow Universitas Ibrahimy : Facebook Twitter Linked Youtube